Hanya
Satu Sisi
Perasaan
hati Riven sangat kacau sekarang. Dia harus menghadapi beberapa masalah
sekaligus. Sano sahabat laki-laki yang selalu mendukung dan setia membaca
curhatan Riven lewat sms maupun
memberi solusi secara langsung, sekarang sudah sudah berhasil mendapatkan
perempuan yang dikaguminya sedari kelas tujuh, “Rasti” teman sebangku Riven di
kelas IX. Perihal yang sangat membuat Riven gembira ini malah membuahkan
perhatian yang berkurang dari sang sahabat. Riven banyak juga mengeluhkan
tentang Sandhi, Sandhi yang selalu setia mendukung dan membuatnya selalu
percaya diri pada kelas VII dan VIII, sekarang tiba-tiba selalu membuatnya
menjadi orang yang paling kurang percaya diri. Dia selalu membanding-bandingkan
kecantikan Rasti dengan Riven, yang sangat jelas Riven kalah jauh. Rasti yang
memiliki kulit putih dan tubuh yang unggul tinggi 3 cm dari Riven belum lagi
wajahnya yang bulat dengan pipi yang chubby
dan rambut dengan panjang sebahu tentu membuat Riven minder . Dan yang paling disesali Riven adalah sikap Riven yang
sangat cuek saat Ade sedang ada masalah. Riven sangat menyesalinya, bahkan saat
Ade putus dari pacarnya Riven malah mendengarkan kabar itu dari Rasti.
Disaat pusing memikirkan masalahnya
yang campur aduk, Riven mendapatkan mimpi yang aneh. Ia bermimpi mendapat tugas
dari gurunya bersama Ade dan Rasti, saat berhenti istirahat dia pergi ke kamar
mandi dan melihat banyak ular yang saat dia berlari keluar ular-ular itu malah
mengejar Rasti dan Ade. Sejak saat itu hari Riven sedikit tenang.
Perlahan-lahan dia mulai melihat laki-laki di sekelilingnya, dan matanya
tertuju pada Delon Sarazadia anak kelas IXD. Pemimpin kelas yang lembut tapi
sangat tegas. Sikapnya yang lembut sangat cocok dengan teman-temannya yang
kebanyakan perempuan. Delon memiliki postur tubuh yang tinggi, berkulit putih,
berambut hitam gelap, matanya yang sipit tetapi memiliki tatapan mata yang
tajam dan memiliki bibirnya yang merah. Belum lagi Delon adalah siswa yang
pintar, benar-benar laki-laki impian Riven. Tetapi Riven bingung kenapa dia
memandang Delon baru saat kelas IX, sedangkan mereka bersama-sama sejak kelas
VII.
***
Pemantapan I berlangsung selama
empat hari. Dan setiap kelas ditempati oleh 20 siswa. Riven yang kelas IX C
mendapatkan kesempatan sekelas dengan Delon kelas IXD yang memiliki nomer absen
di awal karena abjad nama depannya.
Di hari pertama, Riven sudah
mendapatkan banyak perhatian dari teman yang seruangan dengannya. Tidak
terkecuali Delon, Delon ikut bercanda dengan Riven saat Riven sedang menjahili
Denisa. Pada hari kedua saat istirahat, Rasti dan Arika yang berbeda ruangan
mencari Riven di depan pintu ruangannya, Riven pun keluar dan menghampiri
keduanya. Pada saat mereka bertiga berbincang-bincang Delon mencubit hidung
Riven.
“Eeh !” Riven tersentak tak menduga, tapi sikapnya tetap tenang agar Rasti dan Arika tidak curiga.
“Ehem ! Sekelas, deket habis itu terjadi sesuatu” Arika mulai berkomentar saat Delon melangkah pergi menjauhi mereka
“Hahaha, enggak akan ! Masa orang kayak gitu mau sama aku !”
“Berarti agak ngarep ni ye !” Canda Rasti sambil tersenyum membuat Riven tersipu malu.
“Eeh !” Riven tersentak tak menduga, tapi sikapnya tetap tenang agar Rasti dan Arika tidak curiga.
“Ehem ! Sekelas, deket habis itu terjadi sesuatu” Arika mulai berkomentar saat Delon melangkah pergi menjauhi mereka
“Hahaha, enggak akan ! Masa orang kayak gitu mau sama aku !”
“Berarti agak ngarep ni ye !” Canda Rasti sambil tersenyum membuat Riven tersipu malu.
Bel masuk pun berbunyi, guru
pengawas pun masuk dan mulai membagikan LJK. Karena kepanasan, Riven
menyisingkan lengan bajunya. Guru pengawas yang melihatnya mencoba untuk
memberi peringatan dengan cara menurunkan lengannya. Riven tersentak kaget dan
menoleh kepada guru pengawas, responnya hanya tersenyum lebar. Anak-anak
dibelakang yang melihatnya tertawa-tawa kecil termasuk Delon. Saat mendengar
suara Delon jantung Riven berdetak lebih kencang dari biasanya. Saat bersua
dengannya keringatnya menetes lebih banyak. Dan saat bercanda dengan Delon,
Riven kehabisan akal membuatnya tertawa dengan kata lain Riven salting atau salah tingkah. Pada hari
ketiga saat Riven sedang iseng menulis-nulis lirik lagu Delon mengganggunya.
Delon menyenggol sikunya hingga tulisannya tercoret.
“Delon, belanja sana !”
“Idih, enak aja nyuruh-nyuruh emang kamu mau ngasi aku uang apa ?”
“Lagi gak ada dana aku ! Daripada gangguin aku disini, kan ? Mendingan belanja sana !”
“Lagian, kamu tuh ku temenin ! bukan kuganggu”
“Kalo gini caramu nemenin mending kamu belanja lah kayaknya aku lebih enjoy sendiri” Jawab Riven dengan tatapan mata yang menyipit tajam
“Lirik apaan sih ?” Delon mengambil kertas yang ditulisi Riven dan membacanya
“You’re Not Sorry, Taylor punya kan ?”
“Hahaha, kamu ! Itu bukan penjahit yang nyanyiin”
“Iih aku bilangnya Taylor pake Y tau bukan pake I”.
“Delon, belanja sana !”
“Idih, enak aja nyuruh-nyuruh emang kamu mau ngasi aku uang apa ?”
“Lagi gak ada dana aku ! Daripada gangguin aku disini, kan ? Mendingan belanja sana !”
“Lagian, kamu tuh ku temenin ! bukan kuganggu”
“Kalo gini caramu nemenin mending kamu belanja lah kayaknya aku lebih enjoy sendiri” Jawab Riven dengan tatapan mata yang menyipit tajam
“Lirik apaan sih ?” Delon mengambil kertas yang ditulisi Riven dan membacanya
“You’re Not Sorry, Taylor punya kan ?”
“Hahaha, kamu ! Itu bukan penjahit yang nyanyiin”
“Iih aku bilangnya Taylor pake Y tau bukan pake I”.
***
Pada hari keempat Delon malah
sedikit lebih cuek dari hari-hari sebelumnya. Dia lebih banyak bermain dengan
anak-anak kelasnya. Riven agak kesal melihatnya.Saat pulang sekolah, Riven
keluar kelas belakangan. Saat sedang berjalan dari belakang samar-samar
terdengar lirik lagu kesukaannya “You’re Not Sorry”. Riven menoleh ke belakang,
ternyata Delon yang menyanyikannya sambil berjalan ditemani Amarta dan sibuk
memperhatikan kertas yang dipegangnya. Riven cepat-cepat turun lebih dulu
sebelum Delon melihatnya. Riven suka Delon, tetapi Riven tidak pernah mau sibuk
mencari perhatian Delon. Malah-malah kalau bisa Riven lebih memilih menghindar
dari Delon, agar sikap saltingnya tidak kelihatan.
Sesampainya di rumah, Riven
mencurahkan isi hatinya kedalam bentuk tulisan. Dibandingkan dengan curhat
kepada sahabat perempuannya, Riven lebih suka menulis perasaan hatinya dan
menyimpannya. “Disaat perasaan hatiku
kacau, kau hadir dengan tangan terbuka. Disaat Ade mendiamkan aku, kamu
mengajakku berbicara. Disaat Sandhi tidak lagi mendukungku, senyummu hadir
menghiburku. Disaat Sano tak lagi memberi perhatiannya, kamu menghampiriku dan
menemaniku. Dan disaat aku berjalan sendirian, kau menyenandungkan lagu itu.
Hehehe, mungkin karena refleks kali ye ! Kan aku habis ngomongi lagu itu sama
dia kemarin. Jadi dia nyanyiin, yah jadi keliatan GR aku :D”
***
Pemantapan I berlalu, dan sekarang
Ujian Sekolah harus dihadapi selama enam hari. Dan pengaturan ruangan sama
seperti Pemantapan I. Riven sudah membayangkan bagaimana perbincangan akrabnya
dengan Delon. Dan ternyata, Riven salah besar ! Selama empat hari penuh Delon
bermain dengan teman-teman perempuannya. Pada hari kelima Riven melirik mereka
berkumpul bersama saat istirahat, dan dia memutuskan untuk belanja. Dia
berjalan lesu menuju kantin yang berada di lantai satu dari kelasnya yang
terletak di lantai empat. Dia memperlambat langkahnya agar naik tepat saat bel
masuk kelas. Lebih baik begitu daripada melihat Delon cuek batinnya.
Di bawah dia bertemu Rasti dan
Arika.
“Riv, kamu dapet salam tau ! Coba tebak siapa !” Sapa Rasti dengan senyuman lebar
“Dera ? Atau Tirta ?” Tebak Riven garuk-garuk sambil tersenyum menampakkan giginya
“Itukan maumu Riv ! Dititipin salam sama mantan-mantanmu” Wajah Arika langsung mendatar mendengar jawaban Riven.
“Salah Riv ! Kamu dapet salam dari Ade !”
“Haaa ? Seriusan Ras ? Ade ? Nitip salam ? Dia sudah reda kagak marah lagi ?”
“Hehehe, sebenernya gak titip salam sih ! Aku cuma buat-buat aja. Dia tadi cuma sekedar bercerita tentang kamu”
“Yeee ! Kukira beneran. Cerita apa ?”
“Katanya pingin ngajak kamu ngomong !”
“Kenapa gak jadi diajak ngomong akunya ?”
“Canggung tuh Riv, setelah lama gak ngomong bingung deh mau mulai ngomong darimana” Arika mencoba menyampaikan pendapatnya
“Bisa aja kan nanyain pertandingan bola semalem”
“Memangnya tadi malem siapa lawan siapa ?”
“Yaaa gak ada pertandingan bola sih” Jawab Riven sambil melirik ke atas dan tertawa-tawa kecil. Arika langsung memukulnya pelan dan Rasti tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya. Riven pun kembali ke atas dengan Rasti dan Arika, sampai di kelas bel masuk pun berbunyi.
“Riv, kamu dapet salam tau ! Coba tebak siapa !” Sapa Rasti dengan senyuman lebar
“Dera ? Atau Tirta ?” Tebak Riven garuk-garuk sambil tersenyum menampakkan giginya
“Itukan maumu Riv ! Dititipin salam sama mantan-mantanmu” Wajah Arika langsung mendatar mendengar jawaban Riven.
“Salah Riv ! Kamu dapet salam dari Ade !”
“Haaa ? Seriusan Ras ? Ade ? Nitip salam ? Dia sudah reda kagak marah lagi ?”
“Hehehe, sebenernya gak titip salam sih ! Aku cuma buat-buat aja. Dia tadi cuma sekedar bercerita tentang kamu”
“Yeee ! Kukira beneran. Cerita apa ?”
“Katanya pingin ngajak kamu ngomong !”
“Kenapa gak jadi diajak ngomong akunya ?”
“Canggung tuh Riv, setelah lama gak ngomong bingung deh mau mulai ngomong darimana” Arika mencoba menyampaikan pendapatnya
“Bisa aja kan nanyain pertandingan bola semalem”
“Memangnya tadi malem siapa lawan siapa ?”
“Yaaa gak ada pertandingan bola sih” Jawab Riven sambil melirik ke atas dan tertawa-tawa kecil. Arika langsung memukulnya pelan dan Rasti tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya. Riven pun kembali ke atas dengan Rasti dan Arika, sampai di kelas bel masuk pun berbunyi.
***
Ujian Sekolah sudah selesai. Tetapi
kini, Ujian Praktek harus dihadapi selama empat hari. Sejak saat itu Rasti
benar-benar tidak pernah berbincang-bincang dengan Delon. Di hari terakhir
Ujian Praktek, saat Riven berbincang-bincang dengan Aldo di depan perpustakaan,
Delon menghampiri keduanya dan duduk di sebelah Aldo. Riven senang bukan main,
dia mencoba men-stabilkan
perasaannya.
“Pas nanti SMA, apa kita masih bisa akrab kayak gini ya ?”
“Yang penting ada hubungan kan Do ?!” Jawab Delon
“Hubungan berpacaran ?”
“Heh Riven ! Bukan itu yang dimaksud” Mata Aldo melotot tetapi sambil tersenyum lebar.
Saat Riven hampir tertawa, Delon sudah berkomentar. Komentar Delon bersamaan saat Aldo meninggalkan mereka karena dipanggil guru.
“Kamu tuh orangnya gak bisa diajak bercanda ya !” Delon meninggalkan Riven mengikuti Aldo. Bukan hanya meninggalkan Riven tetapi juga meninggalkan komentar yang sangat kasar menurut Riven. Riven langsung terdiam membisu. Perasaannya kecewa seketika. Sandhi yang melintas di depannya tiba-tiba berkata “Riven alay” Riven seakan tidak mendengarnya, dia berjalan lurus menuju taman meninggalkan Sandhi. Sandhi bingung dan mengikutinya “Riv ? Kamu marah sama aku ?” Riven terus berjalan, perasaannya yang hambar membuatnya tidak ingin memberi jawaban atas pertanyaan Sandhi. Riven pun duduk terdiam di taman, merenungi kata-kata Delon. Sandhi yang mengikuti Riven ikut duduk disampinng Riven
“Riven marah sama aku ya ? Riv maaf ya ?” Riven menoleh Sandhi dengan tatapan yang tajam
“Makannya kamu stop ! Bilang-bilang aku alay”
“Iya Riv, Maaf !”
“Pas nanti SMA, apa kita masih bisa akrab kayak gini ya ?”
“Yang penting ada hubungan kan Do ?!” Jawab Delon
“Hubungan berpacaran ?”
“Heh Riven ! Bukan itu yang dimaksud” Mata Aldo melotot tetapi sambil tersenyum lebar.
Saat Riven hampir tertawa, Delon sudah berkomentar. Komentar Delon bersamaan saat Aldo meninggalkan mereka karena dipanggil guru.
“Kamu tuh orangnya gak bisa diajak bercanda ya !” Delon meninggalkan Riven mengikuti Aldo. Bukan hanya meninggalkan Riven tetapi juga meninggalkan komentar yang sangat kasar menurut Riven. Riven langsung terdiam membisu. Perasaannya kecewa seketika. Sandhi yang melintas di depannya tiba-tiba berkata “Riven alay” Riven seakan tidak mendengarnya, dia berjalan lurus menuju taman meninggalkan Sandhi. Sandhi bingung dan mengikutinya “Riv ? Kamu marah sama aku ?” Riven terus berjalan, perasaannya yang hambar membuatnya tidak ingin memberi jawaban atas pertanyaan Sandhi. Riven pun duduk terdiam di taman, merenungi kata-kata Delon. Sandhi yang mengikuti Riven ikut duduk disampinng Riven
“Riven marah sama aku ya ? Riv maaf ya ?” Riven menoleh Sandhi dengan tatapan yang tajam
“Makannya kamu stop ! Bilang-bilang aku alay”
“Iya Riv, Maaf !”
***
Ujian-ujian sudah berlalu, sekarang
siswa-siswa kembali lagi ke kelasnya masing-masing. Sandhi sudah tidak
membanding-bandingkan Rasti dengan Riven lagi, Riven sudah senang. Tapi sebagai
gantinya, Sandhi malah bermain dengan orang lain dan jarang bermain dengan
Riven. “Astaga ! Sama aja -_- Sandhi tidak membaik“ Tulis Riven di
bukunya. Ade juga sudah mulai berani menyapa Riven, meskipun hubungan mereka
tidak kembali seperti dulu. Tetapi Sano, masih sama sepeti waktu itu.
Belakangan ini, Delon sering ke
kelas Riven mencari Neta. Riven sering melihat mereka berbincang-bincang. Riven
menahan rasa irinya pada Neta dan bersikap tidak mau tau. Dua minggu berlalu
kini giliran Pemantapan II yang membuat Riven harus kembali seruangan lagi
dengan Delon. Di Pemantapan kali ini, sikap Delon sudah beda lagi. Saat bel
istirahat, Riven mengambil sisir untuk membenahkan poninya. Delon tiba-tiba
datang menghampirinya sambil mengacak-ngacak poninya
“Ya Tuhan Delon !” Riven mengangkat sisirnya
“Hahahaha” Riven langsung tertawa. Delon yang mengira Riven akan marah malah bingung melihat Riven tertawa.
“Poniku keren ya ? Sampe ada yang iri” Sindir Riven sambil melirik Delon. Delon tertawa kecil dan merangkulnya. Riven melihat tangan Delon dan menyingkirkannya, tetapi Delon kembali menaikkan tangannya merangkul Riven
“Lagian kamu sisiran muluuu, habis itu ngacaaa terus”
“Susah jadi orang keren, harus memperhatikan penampilan” Jawab Riven.
Delon yang mendengarnya tertawa, lupa menurunkan tangannya, dan Riven juga lupa menyingkirkan tangan Delon dari pundaknya, sehingga saat Rasti dan Arika menghampiri Riven di kelas. Mereka berdua melihatnya dan Arika langsung kaget dan tidak sengaja bertanya dengan suara yang kencang “Kalian berdua pacaran ?”
“Enggak !” Jawab Riven sambil menurunkan tangan Delon.
“Aku keluar ya !” Pamit Delon keluar kelas
“Ketahuan hayo !”
“Hahhaha, Rasti ! Aku kayaknya sudah enggak sukak lagi sama Delon !”
“Kok gitu ?” Tanya Arika penasaran. Riven lalu menceritakan kejadian saat dia dan Aldo sedang berbincang-bincang.
“Ya Tuhan Delon !” Riven mengangkat sisirnya
“Hahahaha” Riven langsung tertawa. Delon yang mengira Riven akan marah malah bingung melihat Riven tertawa.
“Poniku keren ya ? Sampe ada yang iri” Sindir Riven sambil melirik Delon. Delon tertawa kecil dan merangkulnya. Riven melihat tangan Delon dan menyingkirkannya, tetapi Delon kembali menaikkan tangannya merangkul Riven
“Lagian kamu sisiran muluuu, habis itu ngacaaa terus”
“Susah jadi orang keren, harus memperhatikan penampilan” Jawab Riven.
Delon yang mendengarnya tertawa, lupa menurunkan tangannya, dan Riven juga lupa menyingkirkan tangan Delon dari pundaknya, sehingga saat Rasti dan Arika menghampiri Riven di kelas. Mereka berdua melihatnya dan Arika langsung kaget dan tidak sengaja bertanya dengan suara yang kencang “Kalian berdua pacaran ?”
“Enggak !” Jawab Riven sambil menurunkan tangan Delon.
“Aku keluar ya !” Pamit Delon keluar kelas
“Ketahuan hayo !”
“Hahhaha, Rasti ! Aku kayaknya sudah enggak sukak lagi sama Delon !”
“Kok gitu ?” Tanya Arika penasaran. Riven lalu menceritakan kejadian saat dia dan Aldo sedang berbincang-bincang.
***
Hari demi hari berlalu. Dilaksanakan
Pemantapan III, keadaan Riven dan Delon tetap sama saja. Tidak begitu akrab,
tidak berjauhan juga. Bisa dikatakan stabil, seperti teman biasa. Beberapa
minggu kemudian, Riven mendengar kabar dari Arika dan Rasti bahwa Delon sudah
memiliki pacar. Riven sama sekali tidak kaget
“Neta kan pacarnya Delon ?”
“Lah santai banget ! Kamu gak kaget ?” Tanya Arika heran
“Enggak, lagian aku suka paling cuma waktu aku deket sama dia doang. Nih ya aku udah beruntung punya orang ini. Kata Riven santai sambil menarik tangan Ade, dan merangkulnya. Ade terlihat bingung, lalu Riven tertawa
“Biasa aja kalik Ade ! Kita jangan musuhan lagi ya ? Aku capek banget harus jauhan gini sama sahabatku !” Jelas Riven diakhiri dengan senyum lebar.
Ade hanya terdiam, dia langsung menurunkan tangan Riven dari pundaknya. Riven tersentak, Rasti dan Arika hanya bingung melihatnya
“Sahabat sahabat ! Ituuuu ajaaa terus yang kamu bilang ! Sekali-kali kek bilang Ade itu pacarku bukan sahabatku !” Kata Ade tiba-tiba
“Haaaahhh !” Bibir Arika membentuk huruf O. Rasti langsung menutup bibir Arika dengan tangannya. Tapi bibirnya tak bisa ditahan untuk tidak melakukan hal yang sama. Melihatnya Arika menutup bibir Rasti dengan tangannya.
“Tapi kan kita gak pacaran, De ?” Jawab Riven datar
“Buat aja jadi gitu !” Jawab Ade singkat
“Caranya ?” Tanya Riven sambil melirik ke arah Rasti dan Arika.
“Gini ! Ku kasih lihat !” Ade terlihat menarik nafas dan melanjutkan kalimatnya “RIVEN ! KAMU MAU JADI PACARKU ? PACAR ! BUKAN SAHABAT” Teriak Ade, pada saat itu Delon pergi ke kelas Riven untuk mencari Neta. Delon yang melihat kejadian itu hanya diam, entah perasaan apa yang dirasakan Delon. Tapi seberkas rasa bersalah menyelimuti wajahnya, akhirnya dia putuskan untuk meninggalkan kelas Riven.
“Engg .. Asal kamu gak cuek-cuek lagi, ya aku maulah”
“Acieeeeee … Manisnya jawaban Riven” Arika langsung berteriak sambil menyingkirkan tangan Rasti dari bibirnya.
“Asek asek, SAHABAT JADI CINTA ni” Rasti ikut-ikut berteriak. Sejak hari itu, saat Riven berpapasan dengan Delon, Delon selalu terlihat lebih dingin dari biasanya. Delon juga tak pernah ke kelas IXC untuk mencari Neta. Saat Delon sedang menunggu jemputan di depan perpustakaan, Riven mendatangi Shima yang duduk di dekat Delon. Tapi Delon tiba-tiba pergi. Riven hanya memandangnya bingung
“Neta kan pacarnya Delon ?”
“Lah santai banget ! Kamu gak kaget ?” Tanya Arika heran
“Enggak, lagian aku suka paling cuma waktu aku deket sama dia doang. Nih ya aku udah beruntung punya orang ini. Kata Riven santai sambil menarik tangan Ade, dan merangkulnya. Ade terlihat bingung, lalu Riven tertawa
“Biasa aja kalik Ade ! Kita jangan musuhan lagi ya ? Aku capek banget harus jauhan gini sama sahabatku !” Jelas Riven diakhiri dengan senyum lebar.
Ade hanya terdiam, dia langsung menurunkan tangan Riven dari pundaknya. Riven tersentak, Rasti dan Arika hanya bingung melihatnya
“Sahabat sahabat ! Ituuuu ajaaa terus yang kamu bilang ! Sekali-kali kek bilang Ade itu pacarku bukan sahabatku !” Kata Ade tiba-tiba
“Haaaahhh !” Bibir Arika membentuk huruf O. Rasti langsung menutup bibir Arika dengan tangannya. Tapi bibirnya tak bisa ditahan untuk tidak melakukan hal yang sama. Melihatnya Arika menutup bibir Rasti dengan tangannya.
“Tapi kan kita gak pacaran, De ?” Jawab Riven datar
“Buat aja jadi gitu !” Jawab Ade singkat
“Caranya ?” Tanya Riven sambil melirik ke arah Rasti dan Arika.
“Gini ! Ku kasih lihat !” Ade terlihat menarik nafas dan melanjutkan kalimatnya “RIVEN ! KAMU MAU JADI PACARKU ? PACAR ! BUKAN SAHABAT” Teriak Ade, pada saat itu Delon pergi ke kelas Riven untuk mencari Neta. Delon yang melihat kejadian itu hanya diam, entah perasaan apa yang dirasakan Delon. Tapi seberkas rasa bersalah menyelimuti wajahnya, akhirnya dia putuskan untuk meninggalkan kelas Riven.
“Engg .. Asal kamu gak cuek-cuek lagi, ya aku maulah”
“Acieeeeee … Manisnya jawaban Riven” Arika langsung berteriak sambil menyingkirkan tangan Rasti dari bibirnya.
“Asek asek, SAHABAT JADI CINTA ni” Rasti ikut-ikut berteriak. Sejak hari itu, saat Riven berpapasan dengan Delon, Delon selalu terlihat lebih dingin dari biasanya. Delon juga tak pernah ke kelas IXC untuk mencari Neta. Saat Delon sedang menunggu jemputan di depan perpustakaan, Riven mendatangi Shima yang duduk di dekat Delon. Tapi Delon tiba-tiba pergi. Riven hanya memandangnya bingung
Di
rumah, Delon tak sengaja memikirkan Riven.
“Katanya Riven nerima Ade ya ? Ngapain juga ? Emangnya Riven suka sama Ade ? Kok mau sih Riven nerima Ade ?”
“Aaaaaaaaaahhhh ! Kenapa sih dia mau nerima Ade ?!” Tak sengaja Delon memukul meja dengan keras
“We Delon ! Kamu ngapain sih di dalem ?” Terdengar suara ketok pintu bersamaan dengan suara adik laki-lakinya
“Nepuk lalat !” Teriak Delon sambil menjulurkan lidahnya dan meringis. Delon lalu merebahkan badannya di kasur sambil tertawa geli
“Ngapaaaaiiiiiin cobak ? Aku mikirin dia sampe kayak gini ? Bikin pusing kepala deh”
“Katanya Riven nerima Ade ya ? Ngapain juga ? Emangnya Riven suka sama Ade ? Kok mau sih Riven nerima Ade ?”
“Aaaaaaaaaahhhh ! Kenapa sih dia mau nerima Ade ?!” Tak sengaja Delon memukul meja dengan keras
“We Delon ! Kamu ngapain sih di dalem ?” Terdengar suara ketok pintu bersamaan dengan suara adik laki-lakinya
“Nepuk lalat !” Teriak Delon sambil menjulurkan lidahnya dan meringis. Delon lalu merebahkan badannya di kasur sambil tertawa geli
“Ngapaaaaiiiiiin cobak ? Aku mikirin dia sampe kayak gini ? Bikin pusing kepala deh”
***
“Delon
! Ni bukunya Neta, katanya dia mau ke perpus jadi gak bisa ngembaliin ke kamu
langsung” Panggil Riven sembari menyodorkan buku Neta pada Delon
“Kok bisa kamu yang disuruh ?”
“Tadi aku ngomong-ngomong sama Rista, gak sengaja Neta denger pas aku bilang mau nyari Shima ke kelas IXD. Terus dia bilang ‘Riven boleh nitip gak ?’ terus aku ngangguk sambil bilang iya. Terus dia ngasi bukunya, terus aku nemuin kamu, yang nemuin Shima si Rista, habis itu aku nunggu Rista disini” Jelas Riven panjang lebar diakhiri dengan menaikkan pundak dan alisnya. Delon hanya diam dan memandangi Riven
“Halo ? Delon masi disini kan ? Delon ?!” Tanya Riven sambil menatap wajah Delon dari bawah “Delon ! Kamu gak ngerti ya aku ngomong apa ?” Tanyanya masih bingung sambil melirik ke atas dan menaruh tangan di hidungnya. Delon hanya memandanginya dengan senyum, sementara itu Riven masi sibuk menjelaskan kembali kalimatnya yang panjang-panjang. Tiba-tiba, Delon langsung menarik tangan Riven dan memeluknya
“CEREWET ! Dasar idiot besar !” Setelah selesai mengucapkan kalimat itu, Delon langsung lari ke tangga meninggalkan Riven. Riven terdiam dan hanya bisa menganga, mengingat-ingat apa yang terjadi barusan.
“Woe ! Balik yok !” Tepuk Rista pada pundak Riven menyadarkannya dari lamunan.
“Kok bisa kamu yang disuruh ?”
“Tadi aku ngomong-ngomong sama Rista, gak sengaja Neta denger pas aku bilang mau nyari Shima ke kelas IXD. Terus dia bilang ‘Riven boleh nitip gak ?’ terus aku ngangguk sambil bilang iya. Terus dia ngasi bukunya, terus aku nemuin kamu, yang nemuin Shima si Rista, habis itu aku nunggu Rista disini” Jelas Riven panjang lebar diakhiri dengan menaikkan pundak dan alisnya. Delon hanya diam dan memandangi Riven
“Halo ? Delon masi disini kan ? Delon ?!” Tanya Riven sambil menatap wajah Delon dari bawah “Delon ! Kamu gak ngerti ya aku ngomong apa ?” Tanyanya masih bingung sambil melirik ke atas dan menaruh tangan di hidungnya. Delon hanya memandanginya dengan senyum, sementara itu Riven masi sibuk menjelaskan kembali kalimatnya yang panjang-panjang. Tiba-tiba, Delon langsung menarik tangan Riven dan memeluknya
“CEREWET ! Dasar idiot besar !” Setelah selesai mengucapkan kalimat itu, Delon langsung lari ke tangga meninggalkan Riven. Riven terdiam dan hanya bisa menganga, mengingat-ingat apa yang terjadi barusan.
“Woe ! Balik yok !” Tepuk Rista pada pundak Riven menyadarkannya dari lamunan.
Sampai pulang sekolah Riven masi
saja bingung pada sikap Delon tadi. “Awas ya ! Tu anak kalo ketemu ! Enak aja
main peluk-peluk” Katanya sambil memukul bantal yang ada di hadapannya.
Kemudian, bibirnya membentuk senyum lalu tawa. “Aku ini ngetawain apa ya ?
Hahahaha” Katanya geli.
Di rumahnya Delon merebahkan
badannya di kasur. Lalu bangun, dan tiduran, lalu bangun lagi. “Apaan sih ?
Kenapa ya ? Kok seneng gini ?” Katanya sembari tersenyum-senyum. Lalu dia
mengambil laptopnya, dia mengetik suatu curahan hati
“Kenapa baru sekarang ?Aku sadar, dia cewek
cerewet yang beda. Sikapnya yang aneh, kaya orang idiot buatan yang alami.
Hahaha, aku ngomong apa sih ?! Maaf ya Riven ? Dulu aku fikir kamu perempuan
cerewet yang nyebelin dan gak bisa diajak bercanda. Tapi … Kamu itu orangnya
humoris. Aku nyesel mandang cuma dari satu sisi. Aku malah nembak Neta, padahal
ada kamu ? Sekarang, kamu sama Ade, dan akuuuu .. Malah suka sama kamu Riven”
Tanpa menge-save-nya, Delon menutup
laptopnya sambil menarik nafas.
Besoknya di sekolah, saat Riven baru
datang dan berjalan ke kelas, Riven melihat Delon bercanda-canda dengan Neta.
Tak sengaja lirikan mata Delon sampai ke Riven, Riven yang menyadarinya hanya
tersenyum dan langsung menuju kelas. Sampai di kelas, Riven menaruh tasnya
“Jeduuuuaaaaaarrrrrrr” Teriak Ade sambil menepuk pundak Riven dari belakang. Riven hanya menoleh.
“Ngapain kamu ? Kayanya sibuk ?” Kata Riven sinis
“Kamu ni ada apanya sih ? Aku tu tadi teriak lo ! Apa kek, kaget lah, ato teriak, latah kek” Heran Ade sambil mengetuk-ngetuk kepala Riven
“Ada biji kopi luwaknya”
“Hahahahahahaha” Mereka berdua tertawa bersama. Dalam tawa itu Riven berkata dalam hati “Yaaahh, gak apa lah ! Seenggaknya aku masih bisa mengagumi Delon .. Meskipun dalam gelap. Sikap Ade yang kaya gini bakal buat aku ngelupain Delon dalam waktu yang sebentar. I LOVE YOU ADE”
“Jeduuuuaaaaaarrrrrrr” Teriak Ade sambil menepuk pundak Riven dari belakang. Riven hanya menoleh.
“Ngapain kamu ? Kayanya sibuk ?” Kata Riven sinis
“Kamu ni ada apanya sih ? Aku tu tadi teriak lo ! Apa kek, kaget lah, ato teriak, latah kek” Heran Ade sambil mengetuk-ngetuk kepala Riven
“Ada biji kopi luwaknya”
“Hahahahahahaha” Mereka berdua tertawa bersama. Dalam tawa itu Riven berkata dalam hati “Yaaahh, gak apa lah ! Seenggaknya aku masih bisa mengagumi Delon .. Meskipun dalam gelap. Sikap Ade yang kaya gini bakal buat aku ngelupain Delon dalam waktu yang sebentar. I LOVE YOU ADE”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar