PROMISE
S
|
unyi dan sepi
adalah dua kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hati Valen. Tahun ini
Valen merayakan Hari Raya Idul Fitri di Banyuwangi, Jawa Timur kampung
tercintanya.
“Len, kamu mandi dulu sana !”
“Iya Bun, ntaran aja masih gerah panas banget disini”
“Nanti malem, kamu gak diajak kalo enggak cepet mandi”
“Mau kemana sih ?”
“Mau beli bakso di Pak Dolah, bareng-bareng sama Nenek, Kakek sama yang
lainnya. Rame deh pokoknya”
“Bun ? Keluarganya Buk May enggak pulang ?”
“Pulang tapi Kak Chen enggak ikut pulang, udah cepet mandi” Bunda Valen
pergi seraya menutup pintu kamar Valen. Valen sebenarnya tidak terlalu
bergembira tahun ini. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya saat dia kelas 1, 2,
3, dan 4. Kak Chen, kakak yang paling disayanginya tahun ini tak ikut pulang ke
Banyuwangi. Nenek Valen mempunyai 4 anak yang tinggalnya berpisah-pisah semua.
Anak pertamanya Buk Siti Junia tinggal di Jember, anak kedua Buk Siti Umay di
Surabaya, Ibu Valen di Bali, dan anak keempat Mbak Ivy tinggal di Jombang.
Pagi-pagi sekali Valen sudah bangun untuk mempersiapkan rukuh dan
sajadahnya untuk halat Id di masjid. Dia berangkat shalat hanya bersama
neneknya. Sepulang dari masjid, Valen duduk-duduk di ruang tamu
“Melon udah gede ya sekarang, kelas berapa Lon ?”
“Ah kakek nih ! Namaku enggak pernah bener dipanggilnya”
“Gitu aja mulutnya udah maju lima senti ke depan. Kela berapa Valen ?”
“Kelas 5 kakek.. Kek ? Kok keluarga Buk May belum dateng ? Terus Kak Chen
kok gak ikut pulang ?”
“Nanti jam 4 katanya minta di jemput di Jajag. Masmu itu sibuk paling, dia
udah gede kelas 3 SMP lo sekarang”
“Sibuk, sibuk ! Tapi masak keluarga sendiri sampe gak diinget ?”
“Ya udahlah, saliman dulu itu ada tamu”
***
Tak terasa 4 hari sudah dilalui Valen di Banyuwangi bersama adik-adiknya
yang lucu-lucu. Meskipun tak bertemu dengan Kakak tersayangnya itu, Valen tetap
bahagia. Karena dapat berkumpul dengan keluarga-keluarganya.
Keesokannya Valen langsung masuk sekolah. Di sekolah Valen termasuk murid
yang pintar. Dia banyak akrab dengan guru-guru dan memiliki banyak teman. Dia
bersyukur atas keadaan itu. Tapi satu harapannya, “BERTEMU KAK CHEN”. Dia
sangat menunggu-nunggu waktu lebaran datang kembali. Akhirnya satu tahun
dilewatinya. Di malam takbir Valen bingung, kenapa malam ini bunda tak bergegas
menyiapkan barang yang akan dibawa Valen, ayahnya, dan adiknya pulang ke
Banyuwangi
“Bun, kok kita enggak siap-siap pulang ke Jawa sih ?”
“Tahun ini, kita enggak bisa pulang. Gaji ayah baru dikasih seperempatnya,
bunda juga gak punya uang Kak”
“Yaaaahhh .. Berati tahun ini
semuanya pulang ? Buk Jun, Buk May, Mbak Ivy ? Pulang semua ? Kecuali kita ?”
“Hehe .. Iya ! Tahun depan janji pulang deh”
“Tapi Kak Chen juga enggak pulang kan ? Hahaha”
“Kak Chen ya ? Kalo tahun ini sih dia pulang Kak. Udah main sana” Bunda pun
pergi meninggalkan Valen untuk menyiapkan makan malam
Perubahan wajah Valen sangat terlihat. Sebelumnya dia tertawa senang karena
membayangkan kakaknya juga tak pulang sama sepertinya. Tapi setelah mendengar
kata-kata bundanya, mata Valen langsung berkaca-kaca. Dia sangat kecewa. Tapi
entah dengan siapa. Valen merenungi masa lalu dengan kakaknya. Saat menangkap
capung, main di sungai, lari mengejar katak, mandi di danau, naik pohon jeruk,
makan bersama, silahturahmi bersama.
“Allahuakbar Allah..huakbar Allahuakbar”
Tiba-tiba Valen tersadar dari lamunannya saat mendengar suara takbir. Tak
sadar air matanya sudah menetes di pahanya. Dia hanya bisa meratapi, dan hanya
bisa menunggu saat dimana dia akan kembali bertemu Kak Chen.
***
“Lon, bangun Lon udah pagi”
“Hemmm, engg”
“Ayo mandi, biar gak telat berangkat shalat ke masjid”
“Ha ? Iya Nek” Valen bangun dan mengucek matanya. Dilihatnya jam sudah
menunjukkan pukul 5 WIB. Valen langsung berdiri dan mengambil handuk lalu
mandi. Selesai mandi Valen berganti baju. Dia mendengar suara ribut di dapur.
Saat sampai di dapur, Valen tak percaya atas apa yang dilihatnya.
“Udah siap mau shalat Id ta ?”
Valen hanya diam sejenak. Lalu mengangguk, dia berjalan ke sumur untuk
berwudhu. Setelah berwudhu, Valen mengintip lagi ke dalam rumah. “Itu beneran
Kak Chen !” batin Valen
“Iya yang nanyak aku tadi itu Kak Chen.. Astaga”
“Ehh, ayo udah siap belom ?”
“Eh Nek, udah .. Ayok” Dengan tersenyum Valen bergegas ke masjid.
Sepulang dari Masjid, Valen pergi ke rumah Mbok untuk minta maaf lahir
batin. Dia sibuk mencari-cari Kak Chen yang sejak Valen pulang tadi tidak
terlihat. Valen kembali ke rumah dan mengambil laptopnya untuk membuat status
tentang Hari Raya di facebook. Saat sedang asyiknya, tiba-tiba Kak Chen duduk
di sebelahnya
“Add Fbku dek ! Chen Cl R”
“Hah ? Eng ... iya .. iy .. a” Valen tak tau perasaan apa yang sedang
menyelimuti hatinya. Perasaan kaget, bahagia, dan nyaman bercampur jadi satu
“Kelas berapa sekarang ?”
“Masih kelas 7. Kak Chen udah kelas 2 SMA ya ?”
“Iya”
“Kak !! Ayo ke rumahnya Nek Widya” Ayah Valen tiba-tiba memanggil Valen
“Iya iya tunggu sebentar Yah. Kak aku ke rumah ibuknya ayah yo ?”
“Yaudah sana”
“Laptopnya mau dipake gak ?”
“Enggak ah”
***
Sepulang dari rumah Nek Widya, Valen tertidur.
“Len ? Bangun, mau diajakin ngelencer
bareng keluarga besar Kakek Teno”
“Iyoooo” Valen terbangun dan melihat Kak Retno yang membangunkannya
Valen bangun dan duduk menyender meluruskan kakinya sambil mengenakan baju
hemnya. Tiba-tiba Kak Chen tidur di paha Valen seraya mencubit pipi Valen.
“Aduuuuhh, ngantuk gak usah ikut. Tidur aja sono !” Celetuk Valen sambil
mengusal rambut kakaknya.
“Ealah, malah mesra-mesraan disini. Ayo berangkat” Ujar nenek Valen pada
Chen dan Valen
Di rumah tetangga-tetangga saat berilahturahmi, Valen dan Chen selalu
membuat ulah dan membuat saudara-saudaranya tertawa. Chen menyembunyikan sandal
Valen, Valen menendang sandal Chen, Chen melempari kepala Valen dengan kacang.
Valen mengejek Chen, dan banyak lagi. Di rumah terakhir yang dikunjungi
keluarga besar Bapak Teno, kakek Valen. Chen menangkap capung dan diberikannya
pada Valen. Valen senang, tapi juga bimbang karena ada perasaan yang beda
timbul di hatinya. Di perjalanan pulang, Valen melepaskan capung yang diberi
Chen. Chen ikut melihatnya dan tiba-tiba Chen menggandeng tangan Valen sampai
tiba di rumah. Valen pun bertanya-tanya, apakah perasaan kakaknya sama
sepertinya. Valen juga tak tau.
Sore ini adalah waktu Valen dan keluarganya untuk pulang ke Bali. Siangnya
keluarga besar Bapak Teno menggelar acara bakar-bakar ikan
“Ngapain sih pulang sekarang ? Kan keluarga kita itu baru aja ketemunya”
“Aku udah harus masuk sekolah Kakak sayang” Jawab Valen sambil mengusal
rambut kakaknya.
Setelah selesai acara bakar-bakar ikan, Valen dan sekeluarga berpamitan
untuk pulang. Valen menyalami, tante, om, nenek, kakek, pakde, mbok, adik-adik
dan kakak-kakak misannya. Tiba saat di depan Chen, Valen mengulurkan tangannya.
Tanpa diduga tiba-tiba Chen memeluknya
“Kamu hati-hati ya ? Nanti aku sms”
“Ha ? Iya Kak. Kak Chen juga hati-hati”
Valen melambaikan tangannya dari mobil sambil tersenyum tanda puas. Dia
sangat bahagia tahun ini. Dia berharap tahun depan bisa seperti ini.
***
HP Valen bergetar, Valen membuka sms dari Kak Chen yang berisi “Yang belom mandi, mandi dulu udah pagi
waktunya sekolah”. Valen langsung bangun dan mandi.
Pulang sekolah, hal yang tak terduga terjadi. Gerry, Laki-laki yang disukai
Valen mengungkapkan perasaanya. Dan ingin menjadikan Valen sebagai pacarnya.
Valen pun menerima Gerry menjadi pacarnya. Dia sangat senang, dia mencoba
menceritakan perasaanya pada Kak Chen. Tapi Kak Chen tak meresponnya. Mungkin
Valen tak tahu, kebahagiaanya adalah awal dari jauhnya hubungan Valen dengan
kakaknya. Selama 4 bulan Valen kehilangan koneksi dengan Chen. Valen selalu
terlihat muram sejak kehilangan koneksi dengan kakaknya. Selama sebulan dia
berfikir keras, dan akhirnya dia memilih untuk putus hubungan berpacaran dengan
Gerry.
Tetapi tak disangka, 2 hari setelah putusnya Valen dengan Gerry, Valen
mendapat kabar duka dari Banyuwangi bahwa Kakek tersayangnya telah berpulang ke
Rahmatullah. Valen menangis sejadi-jadinya, terlebih saat sudah tiba di rumah
Banyuwangi. Dia semakin menangis karena melihat saudara-saudaranya. Chen juga
pulang, dia langsung memeluk Valen untuk menangkannya. Valen menangis lepas di
pundak Chen.
3 hari berlalu, sekarang waktunya Chen untuk pulang ke Surabaya lebih dulu.
“Dek, keep smile ! Jangan lupa kasih kabar” Celetuk Chen seraya merangkul
Valen. Saat hendak naik ke travel jemputannya, Chen membalik badan
“4 bulan lagi kutunggu disini dek” Chen berteriak sambil melambaikan tangan
“Iyaaaaa !!!” Valen membalas dengan melambaikan tangannya juga.
***
Selama 2 bulan setelah pulangnya Valen dari Jawa. Valen selalu menunggu
kabar dari Kak Chen. Namun Valen tak kunjung mendapat kabar. Valen pernah
mengirim inbox kepada Chen, tapi tak pernah mendapat balasan. Tapi saat Kak
Retno membuat status di facebook, Chen punya waktu untuk mengomentari status
Kak Retno. Betapa keecewanya Valen. 4 bulan berlalu. Valen sangat kecewa,
karena Hari Raya tahun ini Chen tidak pulang. Valen lebih kecewa lagi karena
Chen tidak menepati janjinya.
Setahun berlalu, sekarang Valen sudah kelas 9 dan Chen sudah Kuliah. Tahun
ini semua keluarganya lengkap pulang ke Banyuwangi. Hanya Kak Retno dan
suaminya yang pulang sehari karena Kak Retno harus melanjutkan prakteknya di
Bali. Tahun ini, meskipun Chen pulang, tidak sesuatu yang spesial terjadi.
Terlebih setelah semua anak nenek kecuali Mbak Ivy dan keluarganya kembali ke
rumah masing-masing. Chen selalu membuat status tentang dia dan pacarnya. Dia
selalu mengomentari status Mbak Kriss teman Kak Retno. Bertambahlah panas hati
Valen.
Setahun kemudian, Valen tidak ikut pulang ke Jawa dengan alasan sibuk ulangan.
Dan setahun kemudian Valen juga tak pulang dengan alasan sibuk sekolah. Tahun
berikutnya pun begitu. Setelah kelulusan SMA, saat liburan .. Valen sekeluarga
mendapat paket dari Surabaya yang isinya undangan pernikahan tanggal 28
September yang berlangsung di rumah keluarga besar Alm. Bapak Tugino,
Banyuwangi atas nama Chen Fredi dan Reihan Sintya. Valen langsung menangis
sejadi-jadinya. Kak Retno yang tinggal serumah dengan Valen mendengar suara
sendu yang ada di luar dan cepat-cepat keluar. Dilihatnya Valen sedang
menangis. Dia mengambil kertas yang ada di samping Valen.
“Kamu suka ya sama Chen ?”
Valen tak menjawab pertanyaan dari Kak Retno dan tetap menangis. Kak Retno
yang melihat Valen tidak tega, dia langsung memeluk adiknya.
“Pernikahannya tinggal 16 hari lagi. Kenapa dulu kamu enggak cobak ungkapin
sih ?”
Valen juga tak menjawab. Valen masih menangis.
Semakin hari daya tubuh Valen menjadi lemah. Hingga akhirnya jatuh sakit.
Valen ingin tak hadir dalam acara pernikahan Chen. Tapi Valen juga tak ingin
mengecewakan kakaknya. Akhirnya Valen punya pilihan untuk mengahdiri acara
pernikahan kakaknya.
Di kamar rias, Valen datang menghampiri Chen
“Congrate yo bang ! Aku bakalan nyusul kok mekipun masih lama Hehe ..”
Chen tak menjawab, Chen langsung memeluk Valen. Melihat sikap ini Valen
sangat kaget, tak terasa air matanya telah menetes dengan derasnya.
“Kak Chen kenapa ? Gugup ya ?”
“Iya Len” Kak Chen melepaskan pelukannya dan menaruh tangan Valen di
dadanya. Valen merasakan detak jantung kakaknya yang sangat kencang
“Abang gerogi yo ?” Valen terisak sambil tertawa.
“Kamu kenapa nangis Len ? Aku punya salah sama kamu ya ?”
“Ada sesuatu yang Kak Chen enggak akan pernah ngerti. Tapi satu hal yang
harus Kak Chen tau, aku selalu cinta sama Kak Chen. Mekipun perasaan itu harus
lewat Kak Reihan” Valen berdiri dan pergi meninggalkan kamar rias itu. Valen
berlari menuju kebun jeruk tempat dimana dulu dia bermain dengan kakaknya. Saat
acara hijab kabul akan berlangsung, semua orang mencari Valen. Sambil menunggu
penghulu juga. Tapi tak ada yang dapat menemukannya.
Di kebun jeruk, tiba-tiba duduk seorang pria di dekat Valen.
“Enggak kamu aja yang ngerasain. Aku ini adek misannya Reihan, sama kayak
kamu dan Chen. Aku suka sama Reihan, dan enggak akan pernah berani ngungkapin
itu”
“Tapi, kamu tau ? Aku enggak putus asa kayak kamu. Aku berusaha buat
ngerelain Reihan, meskipun sakit tapi mau gimana lagi ?” Pria itu melanjutkan
“Kamu kenapa diem aja ? Aku Sano, kamu Valen kan ?”
Valen tak menjawab hanya mengangguk
Di tempat lain yang masih sibuk mencari Valen, Chen mendapatkan sebuah sms
dari Sano yang berisi “Tempat masa kecil”.
Chen mengingat tempat masa kecil bersama Valen adiknya adalah di kebun jeruk.
Chen melepas jasnya, dan berlari dari rumah menuju kebun jeruk. Dia mencari-cari
sampai akhirnya menemukan Valen dan Sano duduk di pojok kebun jeruk. Chen
berlari ke pojok. Sesampainya dia berlutut di depan Valen
“Bodoh ! Dasar cewek bodoh ! ... Bodoh” Setelah mengatakan kalimat itu,
Chen langsung memeluk Valen sembari menangis. Valen juga memeluk kakaknya dan
menangis sendu. Sano yang melihat hal ini bergegas pergi.
“Kenapa kamu enggak bilang sama aku kalo kamu ada rasa”
“Aku enggak ada rasa sama Kak Chen.. Enggak ada” Jawab Valen sambil
mengusal rambut Chen
“Sejak kapan kamu belajar munafik ?”
“Sejak Kak Chen ngomentarin statunya Mbak Kriss” Valen memukul kakaknya
“Bodoh !” Kakaknya memeluk erat Valen. “Kamu mau gimana sama pernikahan ini
?”
“Apa boleh buat ? Yang penting aku udah bisa lega karena Kak Chen tau
perasaanku” Valen melepaskan pelukannya dan tersenyum. “Aku sayang Kak Chen”
“Aku lebih sayang kamu. Tapi kamu enggak pernah ngerti” Ujar Chen sambil
mencium kening Valen.
“Itu gak akan jadi ciuman terakhir antara Valen dan Chen” Dari kejauhan
terdengar suara. Valen dan Chen menoleh. Suara itu adalah suara Reihan, dan
dibelakang Reihan terlihat Sano. Valen dan Chen kaget bukan main. Valen tak
dapat berkata, Chen hendak menjelaskan tapi Reihan terlebih dulu bicara
“Aku tau apa yang terjadi. Karena barusan aja aku ngalamin itu” Kata Reihan
sambil menunjuk Sano.
Valen yang mendengar penjelasan Reihan langsung tertawaa.
“Kamu ngapain ketawa, Melon ?” Tanya Chen
Valen tak menjawab. Valen melirik Sano yang sedari tadi juga tertawa.
“Engg .. Kayaknya nanti aja deh penjelasannya habis hijab kabul” Jawab
Valen sambil menunjuk penghulu yang sudah datang
Akhirnya acara hijab kabul berlangsung, Valen pergi diam-diam sambil
tersenyum. Diam-diam juga Sano mengikuti Valen
“Kamu ketawa-ketawa sendiri ? Mau kemana kamu ?”
“Aku mau ke Bali !” Jawab Valen sambil tersenyum lebar
“Nikah kayak Chen sama Reihan yuk ?!” Celetuk Sano sambil merangkul Valen
“Haha .. Ayo ! Tapi habisnya nempuh perjalanan dari Jawa ke Bali dengan
jalan kaki !” Jawab Valen sambil tertawa dan memeluk pinggang Sano
“Berati habis ini dong ? Asseeeekk assekkkk”
Mereka melanjutkan perjalanan mereka yang entah tak tau kemana arahnya.
Akhirnya Valen menikah dengan Sano. Sampai Valen sudah tua Valen tak pernah
bisa berhenti mencintai kakaknya.
Dan mungkin juga begitu pada Sano :D
Berdasarkan kisah nyata setengahnya :D Dan setengahnya lagi .. Hanya fiktif
belaka -_-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar