Satu yang Pasti
X
|
ena adalah anak
yang periang, semua tau itu. Temannya, orang tuanya, adik kakaknya, bahkan
guru-gurunya. Tapi, tidak ada satu laki-laki pun yang menyukai Xena. Karena
mereka pikir “ngapain juga pacaran sama orang alay”. Tapi Xena tak pernah
mengeluh. Xena memiliki banyak teman laki-laki yang sangat menghormatinya.
Salah satunya adalah Nano. Xena tidak memiliki kakak, dia sangat ingin memiliki
kakak laki-laki. Mmaka dari itu, Nano dianggpapnya paling tepat menjadi
kakaknya. Karena sikap Nano yang lembut dan hangat. Xena melakukan rutinitas
curhat setiap harinya kepada teman-teman wanitanya.
Tapi semua itu berubah begitu cepat. Xena pikir saat dia berubah menjadi
pribadi yang lebih pendiam, semua orang akan care dan menanyainya “kenapa kamu Xen ?”. Tapi ternyata, Xena salah
besar. Xena tak mendapati semuanya. Namun Xena mendapati sikap teman-temannya,
bahkan sikap orang yang diangganya sahabat. Kini sudah berubah.
Sikap ini dimulai saat pelajaran olahraga. Selesai Xena mengambil nilai
Volly, Xena duduk dengan Rana dan Sandi di bawah pohon samping lapangan. Saat
itu Xena sedang mendengarkan perbincangan antara Rana dan Sandi. Tiba-tiba
sebuah bola melintas dan mengenai kepala
Xena bagian samping kiri. Xena kaget, sangat kaget.
“We mana bolanya ?”
“Niiiii !” Jawab Rana sembari melempar bola
“Oke makasih”
Saat itu Xena mendengar permintaan maaf dari John. Xena tau John lah yang
tidak sengaja menendang bola dengan keras sampai ke arahnya.
“Maaf Xen”
Xena hampir saja membuka mulut untuk mengatakan “Iya”. Tapi tak sempat,
karena dia mendengar Rakha berkata
“Dah biarin ! LANJUT LAGIII” Dengan suara keras yang sangat gampang dapat
didengar oleh Xena. Xena bisa memaafkan John dan bola itu. Tapi Xena
tersinggung saat mendengar Rakha mengatakan kata-kata itu. Meski Rakha hanya
bercanda
“Ngambek dah marah. Cepet kali marah” Itu komentar Dio pada Xena. Yang
menambah amarahnya. Tapi Xena tak dapat berbuat apa. Hanya kebisuan yang
menyelimuti dirinya saat itu. Toh kalau dia marah, tidak akan ada lagi yang
membelanya seperti dulu”
Beberapa menit kemudian, bola yang sama mengenai kepala Sandi.
“San ? Maaf gak sengaja” Dio berteriak dari jauh
“San ? Sakit ? Maaf ya ? Gak sengaja” Rakha tiba-tiba menghampiri Sandi.
“Iya gak apa. Ni tadi kayanya Xena yang lebih sakit”
“Gak kok, Xena gak kenapa-napa” Rakha berkata sambil menoleh ke arah Xena
“Iya gak kenapa kok” Komentar Xena tanpa menoleh ke arah siapapun.
Guru olahraga pun meniupkan peluit panjang yang berarti kegiatan olahraga
sudah selesai. Xena, Rana, dan Sandi menuju kamar mandi lantai I untuk ganti
baju. Saat Xena memegang gagang pintu, belum sempat diputarnya gagang pintu
kamar mandi itu, tiba-tiba pintunya sudah terbuka sendiri. Dilihatnya seorang laki-laki
keluar dari kamar mandi
“Kelas apa kamu ?” Xena bertanya langsung kepada laki-laki itu
“Kelas VIIB”
“Oh”
Selesai ganti baju, mereka langsung naik ke lantai empat.
“Disuruh naruh absen di meja piket” Seorang adik kelas VIII wanita memberi
pengumuman kepada kelas IXB
Tak tunggu lama, Xena langsung turun kebawah dan menaruh absen. Saat hendak
pergi, tak sengaja adik kelas VIIB yang tadi ditemui Xena di kamar mandi
menabrak Xena.
“Denis ! Tunggu, hati-hati jangan kenceng-kenceng” Adik kelas wanita bernama Biyon yang sudah familiar karena bule itu meneriaki laki-laki yang lari di
depannya tak lain adalah adik kelas VIIB itu
“Denis to namanya” Batin Xena
Pulang sekolah ada pelajaran Agama jam 01.15-02.30 WITA. Pelajaran Agama di
sekolah Xena tidak berada pada jam belajar efektif karena guru agama Islam yang
belum tetap.
Waktu istirahat 25 menit itu Xena dan Tani manfaatkan untuk membeli pop ice
dan gorengan di dekat sekolah Xena. Xena hanya membeli gorengan, dan menunggu
Tani yang masih memesan pop ice. Saat itu didengarnya tiga orang adik kelas VII
yang sedari tadi bercanda sambil tertawa riang. Xena menoleh ke arah salah satu
dari mereka. Adik kelas yang ditoleh oleh Xena itu tertawa kecil sambil
menaikkan alisnya. Xena merasa sedikit aneh, karena ternyata adik kelas yang
ditolehnya itu adalah Denis. Tapi Xena tak berkomentar, Xena kembali menoleh ke
arah Tani. Sebentar saja Xena kembali menoleh ke arah Denis. Ternyata Denis
masih memandang Xena dengan tawa kecilnya. Xena pun ikut tertawa kecil karena
terpaksa dengan nada
“Haaaaaaa”
Kemudian Xena berbalik lagi ke arah Tani. Xena kemudian merasa risih, dan
menoleh lagi ke arah Denis. Denis masih juga memandangnya, hanya bedanya Denis
sekarang tertawa terpingkal. Xena pun tak dapat menahan tawa. Perlahan dia
tertawa kecil. Lama-kelamaan karena melihat Denis semakin tertawa
terpingkal-pingkal. Xena pun ikut tertawa terpingkal-pingkal. Lalu, Denis pun
menghampiri Xena.
“Kak kelas apa ?”
“Kela IXB” Dengan masih sedikik tertawa Xena menjawab pertanyaan Denis.
“Cieeeeeeeee” Tiba-tiba terdengar komentar teman-teman Denis dan juga Tani
“Ayo Xen, saya udah selesai”
“Oh .. Oke !”
Pulang dari Agama, Xena sudah dijemput Bundanya. Saat Xena naik motor Denis
sudah meliriknya di tempat duduk dekat ring basket. Denis menaikkan dagunya,
Xena hanya menaikkan alisnya untuk respon. Lalu, bundanya langung tancap gas.
Di rumah, tiba-tiba Denis terlintas di pikiran Xena
“Dasar orang aneh” Jika Xena mengingatnya hanya hal itulah yang dapat ia
katakan.
Besoknya, saat di sekolah Xena masih jengkel karena kejadian bola kemarin.
Saat berjalan dengan Tere di aula sekolah, Denis dan teman-temannya datang ke
arah Xena dan Tere.
“Pagi kakak” Denis menyalami Tere tanpa menoleh Xena. Xena hanya berdiri bengong melihatnya.
“Kamu kenal dia Re ?”
“Enggak juga ! Biarin adek kelas sekarang ini emang sok akrab gitu deh”
“Oh”
Di kelas, Mori teman laki-laki Xena bermain gitar. Xena tambah kesal saja. “Udah
jengkel ada yang ribut lagi” Keluh Xena dalam hati
“Xen ? Kamu lagi bad mood ya ?”
Sandi yang teman sebangkunya bertanya pada Xena
“Enggak juga” Jawab Xena sambil menaikkan pundaknya. Tapi Xena membatin “Kok
tau sih ? Mending diem kamu ketimbang ngomong” dalam hati. Pelajaran di kelas
diikuti Xena dengan rasa malas. Saat istirahat Xena pergi ke kantin dengan
Sandi. Di kantin Xena berpapasan dengan Denis. Tapi Denis sama sekali tidak
menyapanya. “Masak iya sih ? Denis udah lupa sama aku ?” Xena membatin dan
tidak engaja menghentikan langkahnya
“Kamu kenapa Xen ? Kurang sehat ? Pusing ato gimana ?” Tanya Sandi
“Enggak”
Mereka pergi ke taman depan TU untuk makan camilan.
“Xen ? Kamu enggak pernah curhat lagi sekarang lo ! Kenapa ?”
“Enggak kenapa” Dengan sangat sangat cuek Xena menjawab
“Kamu lagi marah ya ?”
“Enggak juga” Jawab Xena bohong
“Udah jengkel, sekarang ditambah kesel sama Denis. Hadeeeehhh” Batin Xena
Xena lupa memberitau kakaknya kalau sekarang dia pulang jam 12.10 bukan
12.50. Akhirnya, Xena pun pulang dengan jalan kaki. Setiap teman yang lewat
bukan menyapanya. Tapi malah mengejeknya. Tambahlah kesal Xena.
Esoknya saat di sekolah, Xena langsung drastis berubah menjadi anak yang
super-super cuek. Biasanya, sejengkel-jengkelnya dia, saat diajak ke kantin dia
pasti mau.
“Xen ? Ke kantin yok ?” Tawar Sandi
“Enggak, makasih” Jawab Xena sembari membuka-buka halaman buku.
“Oh yaudah” Sandi pun pergi ke bawah.
Xena mengintip-ngintip. Dipastikannya Sandi sudah turun lewat tangga utama.
Xena pun nturun lewat tangga tengah. Xena pergi ke perpustakaan untuk membaca
buku tentang astronomi. Disana, Xena merasalebih nyaman. Meski hanya sedikit.
Pada hari-hari berikutnya, Xena terus seperti itu. Sampai-sampai Xena
menjadi orang yang dingin.
Saat sedang di perpustakaan, Xena berpapasan dengan Denis. Xena sudah
serasa tidak mengenal Denis. Malah Denis yang heran.
“Pinjem buku apa Kak ?” tanya Denis mendekati Xena
“Urusanmu ya ?” Jawa Xena dingin
“Terakhir aku lihat kakak, yang aku inget itu ketawanya kakak”
“Terakhir aku ketemu kamu, kamu enggak kenalin aku”
“Maksudnya ?”
Tanpa menjawab pertanyaan Denis, Xena langsung pergi meninggalkannya. Denis
bertanya-tanya “Dia itu kenapa ?”
Semakin hari, Denis semakin memperhatikan gerak-gerik Xena. Denis pun
bertanya kepada Rakha, teman Xena yang juga tetangga Denis.
“Kha ? Cewek itu emang galak ya ?” Tanya Denis menunjuk Xena di kantin
“Dulu enggak, terus belakangan ini .. Tiba-tiba iya”
“Kapan terakhir dia senyum ?”
“3 minggu lalu, itupun karena dia terpaksa. Soalnya lagi ngomong sama Miss
Tiyan”
“Kamu ngitung ya ?”
“Orang dia termasuk sahabatku dulu”
“Mentang-mentang dia cuek, sekarang dia bukan sahabatmu gitu ?”
“Iya laah” Rakha menjawab dengan nada yang sangat santai.
Semakin hari Denis semakin penasaran tentang Xena. Denis memutuskan untuk
mendekati Xena dengan cara terang-terangan. Saat Xena meminjam buku di
perpustakaan
“Hai kak ? Pinjem buku apa ?”
Xena hanya meliriknya tanpa ada jawaban.
“O iya, iya ! Buku IPA ya ?”
Xena lagi-lagi tak menjawab
“Oh oke ! Sorry”
Selesai meminjam buku Xena berjalan ke kantin untuk membeli air. Denis
mengikuti Xena, bahkan dia berjalan di samping Xena.
“Kamu ngapain ngikutin aku ?”
“Ih PD ! Aku mau belanja” Jawab
Denis dengan PD
Xena pun berbalik arah, tidak jadi membeli air.
“Kok gak jadi ke kantin Kak ?”
“Urusanmu apa ?”
“Ya enggak sih, cuma kan masak gak capek habis baca buku. Ya seenggknya
minum air lah”
Xena memandangi Denis.
“Kenapa ?” Tanya Denis kemudian
“Gak cuma barusan ! Ternyata udah dari tadi kamu buntutin aku”
“Eng .. Rencananya sih besok juga”
“ Maksudmu apa kaya gitu ?”
“Aku penasaran aja sama Kakak yang selalu jalan sendiri
Xena menggelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan Denis.
“Kalo geleng berarti setuju. Hehe” Denis berlari mengejar Xena.
Besoknya Denis menunjukkan keseriusan atas kata-katanya kepada Xena
kemarin. Xena hanya terheran, marah pun tak gunanya. Pasti dia tetap akan
membuntutinya.
Setelah 4 hari, Xena sudah terbiasa mendengarkan Denis bicara sendirian.
Sebenarnya Denis berbicara dengan Xena, tapi Xena tak pernah meresponnya. Sama
dengan Xena, Denis pun terbiasa bicara tanpa respon Xena. Saat di kantin, Xena
membeli lolipop. Denis juga ikut-ikutan membeli lolipop. Selama 4 hari Denis
membeli apa yang dibeli Xena. Xena membuka plastik lolipop miliknya, lalu melahapnya.
Denis ikut-ikutan membuka plastik lolipopnya. Tanpa diduga lolipop milik Denis
tidak tertancap di tangkainya sehingga menyebabkan lolipop itu terjatuh. Xena
meliriknya, Xena pun tertawa terpingkal-pingkal. Denis tak memperdulikan lolipop itu. Denis sibuk
melihat Xena tertawa. Denis merasa senang, ada perasaan aneh yang menyelimuti
hatinya. Saat itu juga, bel berbunyi. Xena masih tertawa. Lalu, Denis
menggiring tangan Xena untuk naik tangga.
“Kenapa ?” Tiba-tiba Xena bertanya pada Denis. Sembari menahan tangan Denis
“Kenapa apanya ?” Denis heran dan balik bertanya
“Ini semua ! Kamu relain buat ngomong sendirian selama 4 hari, kamu beli
apa yang aku beli. Kamu ke perpustakaan baca buku”
“Hahaha .. Akhirnya kamu nanyak”
“Kamu pingin aku nanyak ?”
“Aku pingin kamu ngomong sama aku :D”
“Dan ? Kamu berhasil ! Yaudah, aku duluan ya ?”
Di kelas, Xena menyapa Sandi, Dio, Rana, Rakha dan juga Mori. Sandi sangat
senang karena Xena yang dikenalnya sudah kembali lagi menjadi periang. Begitu
juga dengan yang lain.
“Nah gitu dong ! Jangan dikit-dikit marah ! Lebay amat” Komentar Dio dengan
terang-terangan.
“Kata-katamu lebay YOYOK !” Celetuk Xena sambil memukul Dio. Dio memukul
Xena kembali. Xena dan Dio pun main gulat seperti dulu lagi.
Keesokan harinya saat di sekolah, Xena datang lebih awal. Di lantai II dia
sengaja mencari Denis. Niatnya ingin mengucapkan terimakasih. Tapi apa yang
dilihatnya sangat mengejutkan. Denis berdiri di depan pintu ruang kelasnya
sambil merangkul wanita bule itu.
Xena berdiri terdiam seribu, sejuta kalimat bahkan. Xena tidak lari seperti
aktris-aktris wanita di TV. Denis menghampiri Xena.
“Pagi Kak ? Ada perlu apa ?”
“Eng .. Aku .. Kesini .. Ituu .. Apa namanya !!”
“Mau bilang makasih ?”
“Eng .. Iya ! Makasih ya ? Aku udah balik sama temen-temenku lagi”
“Oh sama-sama. Kenalin kak ! Itu Biyon, pacarku” Dengan santai Denis
menunjuk wanita bule itu.
“Oh pasti, iyaa .. Eng .. Iya cantik .. Hmmm .. Aku naik ya ? Daa Biyon ?”
Xena melambaikan tangannya dan berbalik badan. Sangat kecewa, sangat sangat
kecewa Xena meninggalkan Denis. Di kelas Xena diam, meski tidak terlihat murung.
Tapi Dio dan Rana khwatir, takut Xena bersikap dingin lagi
“Xen ? Apa ada masalah ?” Tanya
Rana sambil memegang pundak Xena.
“Enggak kok Ran. Sante aja, kalo
ada masalah aku cerita kok” Jawab Xena sambil tersenyum.
Xena masih tak percaya apa yang
dilihatnya tadi. “Ku kira dia suka sama aku ?” Batin Xena. “Haha, not problem
lah”
“Xen ! Ada yang cari ..” Rakha memanggil
Xena
“Haah ? Siapa Kha ?”
“Liat aja keluar”
Saat di luar Xena menghampiri
orang yang memanggilnya.
“Eh Sion, napa Yon ?”
“Mau jadi pacarku Kak ?”
“Heeeeehhh ?” Xena sangat
terkejut. Xena hanya membayangkan Xena akan berpacaran dengan Denis adik kelas
VII. Bukan dengan Sion, adik kelas VIII
“Jawaaaabbb Xenn ! Kalo perlu
terimaaaa” Celetuk Dio
“Gimana Kak ? Mau ?”
Xena merasa sedikit bingung, tapi apa boleh buat "Lagian si Denis udah punya pacar" batin Xena kemudian
Xena merasa sedikit bingung, tapi apa boleh buat "Lagian si Denis udah punya pacar" batin Xena kemudian
“Emmm .. Okelah” Jawab Xena sambil tersenyum
“Wowowo Jadian ni ?” Celetuk Mori
“Ya terserah Sion sih ?!” Jawab Xena cuma-cuma
“Iya lah, kita jadian” Sion menyauti
Siangnya Xena masih harus
mengikuti ekstrakulikuler komputer. Xena pergi ke kantin bersama dengan Chaca.
“Wait Xen !” Tiba-tiba terdengar
suara dari arah belakang. Xena pun menoleh
“Denis ! Kamu gak pulang ?”
“Iya ini masih tunggu jemputan”
“Oh ! Belanja ?”
“Iya, mau beli air .. Oh iya, Selamat ya Xen ?”
“Enggak pake Kak ?”
“Hahaha.. Iya iya .. Selamat ya
Kak Xena”
“Enggak pake Bahasa Inggris ?”
“Nih emang gini ni Den ! Kalo
lagi waras emang agak menggila” Tiba-tiba Chaca menyauti Xena
"Gak kenapa Kak, yang penting Kak Xena udah seneng. Apalagi udah jadian sama Kak Sion"
"Gak kenapa Kak, yang penting Kak Xena udah seneng. Apalagi udah jadian sama Kak Sion"
“Hahaha .. Iya makasih Denis, yaudah Den aku mau makan dulu”
“Oh iya iya”
Denis pun pergi meninggalkan
kantin. “Aku gak mood belanja, ngapain dia cepet banget dapet pacar” Denis
sibuk megomel di jalan.
“Kalo aku liat nih, Denis kayanya
suka sama kamu Xen”
“Chaca ! Kamu jelas salah
kaprahnya. Denis itu pacaran sama Biyon”
“Aaaa masaaakk ? Enggak deh kayanya. Kalo aku liat sih yang pacaran itu hati kalian berdua”
“Kamu macam ngerti aja omongan
manusia dewasa seperti itu”
“Hahahaha .. Dapet kata-kata
darimana kamu Xen ?”
Di rumah Xena menulis diary. Xena
mencurahkan isi hatinya. “There’s nothing else I can do but love you the best
that I can” Salah satu kalimat yang paling disukai oleh Xena. Tapi Xena tak pernah
tau, apakah dia menyukai Sion ? “Sejak kapan aku suka sama Sion” Xena selalu
bertanya-tanya. Xena berpikir sejenak, dia langsung mengambil HPnya, dia
memutuskan untuk menelepon Denis. Tapi ternyata, baru dia mencari nama Denis di
kontak HPnya, HPnya sudah berdering duluan. Dia langsung mengangkatnya
“Hallo ? Selamat malam, bisa bicara dengan Xena ?”
“Iya
Den, ini aku”
“Kak
? Kamu beneran suka sama Kak Sion ?”
“Kenapa
? Ngapain kamu nanya gitu ? Kamu sendiri juga suka kan sama Biyon”
“Aku
juga bingung, aku suka sama siapa !”
“Astaga
.. Den ? Kamu itu kapan pinternya sih ?”
“Satu
yang pasti !”
“Apaan
?”
“Aku
selalu nyaman, kalo sama Kak Xena. Aku juga gak ngerti kenapa. Apa mungkin ..”
“Aku
ngantuk Den .. Met tidur ya .. Bye”
Xena langsung mematikan teleponnya. Xena takut Denis
mengucapkan sesuatu yang aneh. Benar saja, setelah telepon mati, Denis mengirim
pesan pada Xena yang isinya “Ini udah
pasti bener kok ! Aku suka sama Kak pesek, aku sayang sama Kak Xena” Selesai
membaca, Xena langsung loncat-loncat kegirangan.
Besoknya di sekolah, Xena ke
kantin bersama Chaca. Dia sengaja membeli dua lolipop, yang satu untuk Denis.
Dari jauh, terlihat Denis berjalan menuju ke arahnya, Xena melambaikan
tangannya. Dia menunjuk lolipop yang dibawa. Tapi, tanapa disadari Sion berada
di depan Xena.
“Makasih Xen ?!” Kata Sion
sembari mengambil lolipop di tangan Xena
“Sama-sama Sion” Sion menggiring
tangan Xena menuntunnya berjalan ke arah tangga, sehingga berpapasan dengan
Denis. Xena melirik Denis, begitu juga Denis. Denis hanya bisa terdiam.
Pulang sekolah, saat Xena hendak
menghampiri Denis. Tiba-tiba Biyon datang dan merangkul Denis. Denis melirik ke
arah Xena. Xena langsung berbalik badan. Begitu seterusnya, Xena dan Denis tak
pernah ada waktu berkomunikasi. 3 bulan kemudian di halaman sekolah, saat kerja bakti. Denis
mengambil satu daun dan dituliskannya kata “I LOVE YOU”. Lalu Denis
menerbangkannya. Tak sengaja daun itu mengenai pipi Xena yang sedang bercanda
dengan teman-temannya. Xena mengambil daun itu. Dari jauh .. Denis
mengamatinya. Denis merasa tenang, karena dia tau
“Satu yang pasti Xen ! KITA BERDUA JODOH”
“Satu yang pasti Xen ! KITA BERDUA JODOH”
Semoga aja kisah cintaku beneran kaya gini :D Hahaha simple dan tidak berarti -_- Astaga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar