Kamis, 03 Oktober 2013

Satu yang Pasti


X
ena adalah anak yang periang, semua tau itu. Temannya, orang tuanya, adik kakaknya, bahkan guru-gurunya. Tapi, tidak ada satu laki-laki pun yang menyukai Xena. Karena mereka pikir “ngapain juga pacaran sama orang alay”. Tapi Xena tak pernah mengeluh. Xena memiliki banyak teman laki-laki yang sangat menghormatinya. Salah satunya adalah Nano. Xena tidak memiliki kakak, dia sangat ingin memiliki kakak laki-laki. Mmaka dari itu, Nano dianggpapnya paling tepat menjadi kakaknya. Karena sikap Nano yang lembut dan hangat. Xena melakukan rutinitas curhat setiap harinya kepada teman-teman wanitanya.
Tapi semua itu berubah begitu cepat. Xena pikir saat dia berubah menjadi pribadi yang lebih pendiam, semua orang akan care dan menanyainya “kenapa kamu Xen ?”. Tapi ternyata, Xena salah besar. Xena tak mendapati semuanya. Namun Xena mendapati sikap teman-temannya, bahkan sikap orang yang diangganya sahabat. Kini sudah berubah.
Sikap ini dimulai saat pelajaran olahraga. Selesai Xena mengambil nilai Volly, Xena duduk dengan Rana dan Sandi di bawah pohon samping lapangan. Saat itu Xena sedang mendengarkan perbincangan antara Rana dan Sandi. Tiba-tiba sebuah bola melintas dan mengenai kepala  Xena bagian samping kiri. Xena kaget, sangat kaget.
“We mana bolanya ?”
“Niiiii !” Jawab Rana sembari melempar bola
“Oke makasih”
Saat itu Xena mendengar permintaan maaf dari John. Xena tau John lah yang tidak sengaja menendang bola dengan keras sampai ke arahnya.
“Maaf Xen”
Xena hampir saja membuka mulut untuk mengatakan “Iya”. Tapi tak sempat, karena dia mendengar Rakha berkata
“Dah biarin ! LANJUT LAGIII” Dengan suara keras yang sangat gampang dapat didengar oleh Xena. Xena bisa memaafkan John dan bola itu. Tapi Xena tersinggung saat mendengar Rakha mengatakan kata-kata itu. Meski Rakha hanya bercanda
“Ngambek dah marah. Cepet kali marah” Itu komentar Dio pada Xena. Yang menambah amarahnya. Tapi Xena tak dapat berbuat apa. Hanya kebisuan yang menyelimuti dirinya saat itu. Toh kalau dia marah, tidak akan ada lagi yang membelanya seperti dulu”
Beberapa menit kemudian, bola yang sama mengenai kepala Sandi.
“San ? Maaf gak sengaja” Dio berteriak dari jauh
“San ? Sakit ? Maaf ya ? Gak sengaja” Rakha tiba-tiba menghampiri Sandi.
“Iya gak apa. Ni tadi kayanya Xena yang lebih sakit”
“Gak kok, Xena gak kenapa-napa” Rakha berkata sambil menoleh ke arah Xena
“Iya gak kenapa kok” Komentar Xena tanpa menoleh ke arah siapapun.
Guru olahraga pun meniupkan peluit panjang yang berarti kegiatan olahraga sudah selesai. Xena, Rana, dan Sandi menuju kamar mandi lantai I untuk ganti baju. Saat Xena memegang gagang pintu, belum sempat diputarnya gagang pintu kamar mandi itu, tiba-tiba pintunya sudah terbuka sendiri. Dilihatnya seorang laki-laki keluar dari kamar mandi
“Kelas apa kamu ?” Xena bertanya langsung kepada laki-laki itu
“Kelas VIIB”
“Oh”
Selesai ganti baju, mereka langsung naik ke lantai empat.
“Disuruh naruh absen di meja piket” Seorang adik kelas VIII wanita memberi pengumuman kepada kelas IXB
Tak tunggu lama, Xena langsung turun kebawah dan menaruh absen. Saat hendak pergi, tak sengaja adik kelas VIIB yang tadi ditemui Xena di kamar mandi menabrak Xena.
“Denis ! Tunggu, hati-hati jangan kenceng-kenceng” Adik kelas wanita bernama Biyon yang sudah familiar karena bule itu meneriaki laki-laki yang lari di depannya tak lain adalah adik kelas VIIB itu
“Denis to namanya” Batin Xena
Pulang sekolah ada pelajaran Agama jam 01.15-02.30 WITA. Pelajaran Agama di sekolah Xena tidak berada pada jam belajar efektif karena guru agama Islam yang belum tetap.
Waktu istirahat 25 menit itu Xena dan Tani manfaatkan untuk membeli pop ice dan gorengan di dekat sekolah Xena. Xena hanya membeli gorengan, dan menunggu Tani yang masih memesan pop ice. Saat itu didengarnya tiga orang adik kelas VII yang sedari tadi bercanda sambil tertawa riang. Xena menoleh ke arah salah satu dari mereka. Adik kelas yang ditoleh oleh Xena itu tertawa kecil sambil menaikkan alisnya. Xena merasa sedikit aneh, karena ternyata adik kelas yang ditolehnya itu adalah Denis. Tapi Xena tak berkomentar, Xena kembali menoleh ke arah Tani. Sebentar saja Xena kembali menoleh ke arah Denis. Ternyata Denis masih memandang Xena dengan tawa kecilnya. Xena pun ikut tertawa kecil karena terpaksa dengan nada
“Haaaaaaa”
Kemudian Xena berbalik lagi ke arah Tani. Xena kemudian merasa risih, dan menoleh lagi ke arah Denis. Denis masih juga memandangnya, hanya bedanya Denis sekarang tertawa terpingkal. Xena pun tak dapat menahan tawa. Perlahan dia tertawa kecil. Lama-kelamaan karena melihat Denis semakin tertawa terpingkal-pingkal. Xena pun ikut tertawa terpingkal-pingkal. Lalu, Denis pun menghampiri Xena.
“Kak kelas apa ?”
“Kela IXB” Dengan masih sedikik tertawa Xena menjawab pertanyaan Denis.
“Cieeeeeeeee” Tiba-tiba terdengar komentar teman-teman Denis dan juga Tani
“Ayo Xen, saya udah selesai”
“Oh .. Oke !”
Pulang dari Agama, Xena sudah dijemput Bundanya. Saat Xena naik motor Denis sudah meliriknya di tempat duduk dekat ring basket. Denis menaikkan dagunya, Xena hanya menaikkan alisnya untuk respon. Lalu, bundanya langung tancap gas.
Di rumah, tiba-tiba Denis terlintas di pikiran Xena
“Dasar orang aneh” Jika Xena mengingatnya hanya hal itulah yang dapat ia katakan.
Besoknya, saat di sekolah Xena masih jengkel karena kejadian bola kemarin. Saat berjalan dengan Tere di aula sekolah, Denis dan teman-temannya datang ke arah Xena dan Tere.
“Pagi kakak” Denis menyalami Tere tanpa menoleh Xena. Xena hanya berdiri bengong melihatnya.
“Kamu kenal dia Re ?”
“Enggak juga ! Biarin adek kelas sekarang ini emang sok akrab gitu deh”
“Oh”
Di kelas, Mori teman laki-laki Xena bermain gitar. Xena tambah kesal saja. “Udah jengkel ada yang ribut lagi” Keluh Xena dalam hati
“Xen ? Kamu lagi bad mood ya ?” Sandi yang teman sebangkunya bertanya pada Xena
“Enggak juga” Jawab Xena sambil menaikkan pundaknya. Tapi Xena membatin “Kok tau sih ? Mending diem kamu ketimbang ngomong” dalam hati. Pelajaran di kelas diikuti Xena dengan rasa malas. Saat istirahat Xena pergi ke kantin dengan Sandi. Di kantin Xena berpapasan dengan Denis. Tapi Denis sama sekali tidak menyapanya. “Masak iya sih ? Denis udah lupa sama aku ?” Xena membatin dan tidak engaja menghentikan langkahnya
“Kamu kenapa Xen ? Kurang sehat ? Pusing ato gimana ?” Tanya Sandi
“Enggak”
Mereka pergi ke taman depan TU untuk makan camilan.
“Xen ? Kamu enggak pernah curhat lagi sekarang lo ! Kenapa ?”
“Enggak kenapa” Dengan sangat sangat cuek Xena menjawab
“Kamu lagi marah ya ?”
“Enggak juga” Jawab Xena bohong
“Udah jengkel, sekarang ditambah kesel sama Denis. Hadeeeehhh” Batin Xena
Xena lupa memberitau kakaknya kalau sekarang dia pulang jam 12.10 bukan 12.50. Akhirnya, Xena pun pulang dengan jalan kaki. Setiap teman yang lewat bukan menyapanya. Tapi malah mengejeknya. Tambahlah kesal Xena.
Esoknya saat di sekolah, Xena langsung drastis berubah menjadi anak yang super-super cuek. Biasanya, sejengkel-jengkelnya dia, saat diajak ke kantin dia pasti mau.
“Xen ? Ke kantin yok ?” Tawar Sandi
“Enggak, makasih” Jawab Xena sembari membuka-buka halaman buku.
“Oh yaudah” Sandi pun pergi ke bawah.
Xena mengintip-ngintip. Dipastikannya Sandi sudah turun lewat tangga utama. Xena pun nturun lewat tangga tengah. Xena pergi ke perpustakaan untuk membaca buku tentang astronomi. Disana, Xena merasalebih nyaman. Meski hanya sedikit.
Pada hari-hari berikutnya, Xena terus seperti itu. Sampai-sampai Xena menjadi orang yang dingin.
Saat sedang di perpustakaan, Xena berpapasan dengan Denis. Xena sudah serasa tidak mengenal Denis. Malah Denis yang heran.
“Pinjem buku apa Kak ?” tanya Denis mendekati Xena
“Urusanmu ya ?” Jawa Xena dingin
“Terakhir aku lihat kakak, yang aku inget itu ketawanya kakak”
“Terakhir aku ketemu kamu, kamu enggak kenalin aku”
“Maksudnya ?”
Tanpa menjawab pertanyaan Denis, Xena langsung pergi meninggalkannya. Denis bertanya-tanya “Dia itu kenapa ?”
Semakin hari, Denis semakin memperhatikan gerak-gerik Xena. Denis pun bertanya kepada Rakha, teman Xena yang juga tetangga Denis.
“Kha ? Cewek itu emang galak ya ?” Tanya Denis menunjuk Xena di kantin
“Dulu enggak, terus belakangan ini .. Tiba-tiba iya”
“Kapan terakhir dia senyum ?”
“3 minggu lalu, itupun karena dia terpaksa. Soalnya lagi ngomong sama Miss Tiyan”
“Kamu ngitung ya ?”
“Orang dia termasuk sahabatku dulu”
“Mentang-mentang dia cuek, sekarang dia bukan sahabatmu gitu ?”
“Iya laah” Rakha menjawab dengan nada yang sangat santai.
Semakin hari Denis semakin penasaran tentang Xena. Denis memutuskan untuk mendekati Xena dengan cara terang-terangan. Saat Xena meminjam buku di perpustakaan
“Hai kak ? Pinjem buku apa ?”
Xena hanya meliriknya tanpa ada jawaban.
“O iya, iya ! Buku IPA ya ?”
Xena lagi-lagi tak menjawab
“Oh oke ! Sorry”
Selesai meminjam buku Xena berjalan ke kantin untuk membeli air. Denis mengikuti Xena, bahkan dia berjalan di samping Xena.
“Kamu ngapain ngikutin aku ?”
“Ih PD ! Aku mau belanja” Jawab  Denis dengan PD
Xena pun berbalik arah, tidak jadi membeli air.
“Kok gak jadi ke kantin Kak ?”
“Urusanmu apa ?”
“Ya enggak sih, cuma kan masak gak capek habis baca buku. Ya seenggknya minum air lah”
Xena memandangi Denis.
“Kenapa ?” Tanya Denis kemudian
“Gak cuma barusan ! Ternyata udah dari tadi kamu buntutin aku”
“Eng .. Rencananya sih besok juga”
“ Maksudmu apa kaya gitu ?”
“Aku penasaran aja sama Kakak yang selalu jalan sendiri
Xena menggelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan Denis.
“Kalo geleng berarti setuju. Hehe” Denis berlari mengejar Xena.
Besoknya Denis menunjukkan keseriusan atas kata-katanya kepada Xena kemarin. Xena hanya terheran, marah pun tak gunanya. Pasti dia tetap akan membuntutinya.
Setelah 4 hari, Xena sudah terbiasa mendengarkan Denis bicara sendirian. Sebenarnya Denis berbicara dengan Xena, tapi Xena tak pernah meresponnya. Sama dengan Xena, Denis pun terbiasa bicara tanpa respon Xena. Saat di kantin, Xena membeli lolipop. Denis juga ikut-ikutan membeli lolipop. Selama 4 hari Denis membeli apa yang dibeli Xena. Xena membuka plastik lolipop miliknya, lalu melahapnya. Denis ikut-ikutan membuka plastik lolipopnya. Tanpa diduga lolipop milik Denis tidak tertancap di tangkainya sehingga menyebabkan lolipop itu terjatuh. Xena meliriknya, Xena pun tertawa terpingkal-pingkal. Denis  tak memperdulikan lolipop itu. Denis sibuk melihat Xena tertawa. Denis merasa senang, ada perasaan aneh yang menyelimuti hatinya. Saat itu juga, bel berbunyi. Xena masih tertawa. Lalu, Denis menggiring tangan Xena untuk naik tangga.
“Kenapa ?” Tiba-tiba Xena bertanya pada Denis. Sembari menahan tangan Denis
“Kenapa apanya ?” Denis heran dan balik bertanya
“Ini semua ! Kamu relain buat ngomong sendirian selama 4 hari, kamu beli apa yang aku beli. Kamu ke perpustakaan baca buku”
“Hahaha .. Akhirnya kamu nanyak”
“Kamu pingin aku nanyak ?”
“Aku pingin kamu ngomong sama aku :D”
“Dan ? Kamu berhasil ! Yaudah, aku duluan ya ?”
Di kelas, Xena menyapa Sandi, Dio, Rana, Rakha dan juga Mori. Sandi sangat senang karena Xena yang dikenalnya sudah kembali lagi menjadi periang. Begitu juga dengan yang lain.
“Nah gitu dong ! Jangan dikit-dikit marah ! Lebay amat” Komentar Dio dengan terang-terangan.
“Kata-katamu lebay YOYOK !” Celetuk Xena sambil memukul Dio. Dio memukul Xena kembali. Xena dan Dio pun main gulat seperti dulu lagi.
Keesokan harinya saat di sekolah, Xena datang lebih awal. Di lantai II dia sengaja mencari Denis. Niatnya ingin mengucapkan terimakasih. Tapi apa yang dilihatnya sangat mengejutkan. Denis berdiri di depan pintu ruang kelasnya sambil merangkul wanita bule itu.
Xena berdiri terdiam seribu, sejuta kalimat bahkan. Xena tidak lari seperti aktris-aktris wanita di TV. Denis menghampiri Xena.
“Pagi Kak ? Ada perlu apa ?”
“Eng .. Aku .. Kesini .. Ituu .. Apa namanya !!”
“Mau bilang makasih ?”
“Eng .. Iya ! Makasih ya ? Aku udah balik sama temen-temenku lagi”
“Oh sama-sama. Kenalin kak ! Itu Biyon, pacarku” Dengan santai Denis menunjuk wanita bule itu.
“Oh pasti, iyaa .. Eng .. Iya cantik .. Hmmm .. Aku naik ya ? Daa Biyon ?” Xena melambaikan tangannya dan berbalik badan. Sangat kecewa, sangat sangat kecewa Xena meninggalkan Denis. Di kelas Xena diam, meski tidak terlihat murung. Tapi Dio dan Rana khwatir, takut Xena bersikap dingin lagi
               “Xen ? Apa ada masalah ?” Tanya Rana sambil memegang pundak Xena.
               “Enggak kok Ran. Sante aja, kalo ada masalah aku cerita kok” Jawab Xena sambil tersenyum.
               Xena masih tak percaya apa yang dilihatnya tadi. “Ku kira dia suka sama aku ?” Batin Xena. “Haha, not problem lah”
               “Xen ! Ada yang cari ..” Rakha memanggil Xena
               “Haah ? Siapa Kha ?”
               “Liat aja keluar”
               Saat di luar Xena menghampiri orang yang memanggilnya.
               “Eh Sion, napa Yon ?”
               “Mau jadi pacarku Kak ?”
               “Heeeeehhh ?” Xena sangat terkejut. Xena hanya membayangkan Xena akan berpacaran dengan Denis adik kelas VII. Bukan dengan Sion, adik kelas VIII
               “Jawaaaabbb Xenn ! Kalo perlu terimaaaa” Celetuk Dio
               “Gimana Kak ? Mau ?”
                Xena merasa sedikit bingung, tapi apa boleh buat "Lagian si Denis udah punya pacar" batin Xena kemudian
               “Emmm .. Okelah” Jawab Xena sambil tersenyum
               “Wowowo Jadian ni ?” Celetuk Mori
               “Ya terserah Sion sih ?!” Jawab Xena cuma-cuma
               “Iya lah, kita jadian” Sion menyauti
               Siangnya Xena masih harus mengikuti ekstrakulikuler komputer. Xena pergi ke kantin bersama dengan Chaca.
               “Wait Xen !” Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang. Xena pun menoleh
               “Denis ! Kamu gak pulang ?”
               “Iya ini masih tunggu jemputan”
               “Oh ! Belanja ?”
               “Iya, mau beli air .. Oh iya, Selamat ya Xen ?”
               “Enggak pake Kak ?”
               “Hahaha.. Iya iya .. Selamat ya Kak Xena”
               “Enggak pake Bahasa Inggris ?”
               “Nih emang gini ni Den ! Kalo lagi waras emang agak menggila” Tiba-tiba Chaca menyauti Xena
               "Gak kenapa Kak, yang penting Kak Xena udah seneng. Apalagi udah jadian sama Kak Sion"
               “Hahaha .. Iya makasih Denis, yaudah Den aku mau makan dulu”
               “Oh iya iya”
               Denis pun pergi meninggalkan kantin. “Aku gak mood belanja, ngapain dia cepet banget dapet pacar” Denis sibuk megomel di jalan.
               “Kalo aku liat nih, Denis kayanya suka sama kamu Xen”
               “Chaca ! Kamu jelas salah kaprahnya. Denis itu pacaran sama Biyon”
               “Aaaa masaaakk ? Enggak deh kayanya. Kalo aku liat sih yang pacaran itu hati kalian berdua”
               “Kamu macam ngerti aja omongan manusia dewasa seperti itu”
               “Hahahaha .. Dapet kata-kata darimana kamu Xen ?”
               Di rumah Xena menulis diary. Xena mencurahkan isi hatinya. “There’s nothing else I can do but love you the best that I can” Salah satu kalimat yang paling disukai oleh Xena. Tapi Xena tak pernah tau, apakah dia menyukai Sion ? “Sejak kapan aku suka sama Sion” Xena selalu bertanya-tanya. Xena berpikir sejenak, dia langsung mengambil HPnya, dia memutuskan untuk menelepon Denis. Tapi ternyata, baru dia mencari nama Denis di kontak HPnya, HPnya sudah berdering duluan. Dia langsung mengangkatnya
               “Hallo ? Selamat malam, bisa bicara dengan Xena ?”
               “Iya Den, ini aku”
               “Kak ? Kamu beneran suka sama Kak Sion ?”
               “Kenapa ? Ngapain kamu nanya gitu ? Kamu sendiri juga suka kan sama Biyon”
               “Aku juga bingung, aku suka sama siapa !”
               “Astaga .. Den ? Kamu itu kapan pinternya sih ?”
               “Satu yang pasti !”
               “Apaan ?”
               “Aku selalu nyaman, kalo sama Kak Xena. Aku juga gak ngerti kenapa. Apa mungkin ..”
               “Aku ngantuk Den .. Met tidur ya .. Bye”
               Xena langsung mematikan teleponnya. Xena takut Denis mengucapkan sesuatu yang aneh. Benar saja, setelah telepon mati, Denis mengirim pesan pada Xena yang isinya “Ini udah pasti bener kok ! Aku suka sama Kak pesek, aku sayang sama Kak Xena” Selesai membaca, Xena langsung loncat-loncat kegirangan.
               Besoknya di sekolah, Xena ke kantin bersama Chaca. Dia sengaja membeli dua lolipop, yang satu untuk Denis. Dari jauh, terlihat Denis berjalan menuju ke arahnya, Xena melambaikan tangannya. Dia menunjuk lolipop yang dibawa. Tapi, tanapa disadari Sion berada di depan Xena.
               “Makasih Xen ?!” Kata Sion sembari mengambil lolipop di tangan Xena
               “Sama-sama Sion” Sion menggiring tangan Xena menuntunnya berjalan ke arah tangga, sehingga berpapasan dengan Denis. Xena melirik Denis, begitu juga Denis. Denis hanya bisa terdiam.
               Pulang sekolah, saat Xena hendak menghampiri Denis. Tiba-tiba Biyon datang dan merangkul Denis. Denis melirik ke arah Xena. Xena langsung berbalik badan. Begitu seterusnya, Xena dan Denis tak pernah ada waktu berkomunikasi. 3 bulan kemudian di halaman sekolah, saat kerja bakti. Denis mengambil satu daun dan dituliskannya kata “I LOVE YOU”. Lalu Denis menerbangkannya. Tak sengaja daun itu mengenai pipi Xena yang sedang bercanda dengan teman-temannya. Xena mengambil daun itu. Dari jauh .. Denis mengamatinya. Denis merasa tenang, karena dia tau

              “Satu yang pasti Xen ! KITA BERDUA JODOH”

Semoga aja kisah cintaku beneran kaya gini :D Hahaha simple dan tidak berarti -_- Astaga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar